Standar
ICT Berdasarkan UNESCO
Standar dan sumber daya dalam UNESCO proyek “ ICT Standar
Kompetensi Guru” (ICY-CTS ) memberikan pedoman bagi semua guru, khusus untuk
program pendidikan guru, perencanaan dan penawaran akan mempersiapkan
mereka untuk memainkan peran penting dalam memproduksi teknologi yang mampu
bagi siswa. Hari ini guru kelas perlu dipersiapkan untuk menyediakan teknologi
yang didukung kesempatan pembelajaran bagi siswa mereka. Menjadi siap untuk
menggunakan teknologi dan mengetahui bagaimana teknologi yang dapat mendukung
pembelajaran siswa telah menjadi keterampilan integral dan profesional setiap
guru.
Melalui proyek ICT-CTS, UNESCO menanggapi :
a.
Fungsinya
sebagai lembaga penetapan standar
b.
Mandatnya dalam
Pendidikan untuk Semua ( PUS )
c.
Mandatnya
sebagai lembaga yang memimpin garis aksi C4 pada “pembangunan kapasitas” (
dengan UNDP ) dan C7 pada “ e-learning” yang ditetapkan oleh Jenewa. Rencana
Aksi yang diadopsi oleh WSIS1 (2003)
d.
Untuk tujuan
menyeluruh atas bangunan inklusif masyarakat pengetahuan melalui komunikasi dan
informasi.
Kompetensi TIK
Guru
UNESCO (Organisasi Pendidikan,
Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) telah membuat Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk
Guru dalam dokumen ICT Competency Framework for Teachers (ICT CFT). ICT CFT
adalah suatu kerangka kerja yang mencantumkan kompetensi yang diperlukan oleh
guru untuk mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam
kegiatan belajar mengajar dan praktek profesional guru. ICT Competency
Framework for Teachers ini bertujuan untuk membantu negara-negara dalam
mengembangkan kebijakan dan standar kompetensi TIK guru nasional yang
komprehensif, dan harus dilihat sebagai komponen penting dari TIK secara keseluruhan
dalam Master Plan Pendidikan.
Menurut UNESCO, Kompetensi TIK guru
dapat dikelompokkan ke dalam enam aspek, yaitu: 1. Pemahaman TIK dalam
pendidikan, 2. Kurikulum dan Penilaian, 3. Pedagogi, 4. Teknologi Informasi dan
Komunikasi, 5. Organisasi dan Administrasi, dan 6. Pembelajaran Guru
Profesional.
1.
Aspek Pemahaman
TIK dalam pendidikan meliputi pemahaman guru terhadap kebijkan pemerintah dalam
pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan, sehingga
guru mampu menerjemahkan kebikan tersebut ke dalam praktek aktivitas
pembelajaran.
2.
Aspek Kurikulum
dan Penilaian meliputi kompetensi guru dalam pemanfaatan TIK dalam hal
pengembangan kurikulum, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan pengalaman
belajar siswa, penilaian dan pengukuran, serta pemanfaatan TIK untuk peserta
didik berkebutuhan khusus.
3.
Aspek Pedagogi
meliputi pemanfaatan TIK dalam hal perencanaan dan penyusunan strategi
pembelajaran, pengembangan pembelajaran aneka sumber, pembelajaran berbasis masalah,
serta komunikasi dan kolaborasi.
4.
Aspek Teknologi
Informasi dan Komunikasi meliputi kompetensi guru dalam penggunaan piranti TIK,
baik pemanfaatan multimedia, internet, media audio visual untuk pembelajaran
ataupun TIK sebagai penunjang administrasi pembelajaran.
5.
Aspek
Organisasi dan Administrasi meliputi integrasi TIK dalam pembelajaran,
pengelolaan pembelajaran berbantuan TIK, serta pemahaman tentang etika dalam
pemanfaatan TIK.
6. Aspek
Pembelajaran Guru Profesional meliputi kemampuan guru dalam memanfaatkan TIK
untuk pengembangan diri, partisipasi dan kontribusi dalam forum profesi, serta
memanfaatkan TIK sebagai sarana riset dan pengembangan professional.
Tahapan Integrasi ICT (TIK)
Model integrasi TIK seperti pada gambar memiliki dua
dimensi: teknologi dan pedagogi. Teknologi merujuk untuk semua teknologi
informasi dan komunikasi (TIK), dan pedagogi adalah seni dan ilmu mengajar.
Dimensi teknologi adalah sebuah kontinum yang mewakili jumlah dari penggunaan
TIK yang semakin meningkat/beragam. Dimensi pedagogi juga sebuah kontinum dan
mewakili perubahan praktek mengajar yang dihasilkan dari penerapan TIK. Dalam
dua dimensi ini terdap;at empat tahapan model integrasi TIK pada sistem
pendidikan dan sekolah. Keempat tahapan ini merupakan tahapan kontinum, yang
oleh UNESCO diistilahkan dengan Emerging, Applying, Infusing dan Transforming.

a.
Tahap Emerging
dicirikan dengan pemanfaatan TIK oleh sekolah pada tahap permulaan. Pada
tahapan ini, sekolah baru memulai membeli atau membiayai infrastruktur TIK,
baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Kemampuan TIK guru-guru dan
staf administrasi sekolah masih berada pada tahap memulai eksplorasi penggunaan
TIK untuk tujuan manajemen dan menambahkan TIK pada kurikulum. Pada tahap ini
sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional, akan tetapi sudah ada
kepedulian tentang bagaimana pentingnya penggunaan TIK tersebut dalam konteks
pendidikan. Pada tahap ini, fokus di kelas sering belajar keterampilan TIK
dasar dan mengidentifikasi komponen TIK. Guru pada tahap ini sering menggunakan
peralatan yang tersedia untuk tujuan profesional mereka sendiri, seperti
pengolah kata untuk mempersiapkan lembar kerja, spreadsheet untuk mengelola
daftar kelas dan, jika internet juga tersedia, untuk mencari informasi atau
berkomunikasi melalui e-mail. Dengan cara ini, guru mengembangkan keterampilan
literasi TIK mereka dan belajar bagaimana menerapkan TIK untuk berbagai tugas
profesional dan pribadi. Penekanannya adalah pada belajar menggunakan berbagai
tools dan aplikasi, dan menjadi sadar akan potensi TIK dalam pengajaran kedepannya
. Pada tahap Emerging, praktek kelas masih sangat banyak berpusat pada guru.
b.
Tahap Applying
dicirikan dengan sudah adanya pemahaman tentang kontribusi dan upaya menerapkan
TIK dalam konteks manajemen sekolah dan pembelajaran. Dan biasanya di
negara-negara tersebut sudah ada kebijakan nasional TIK. Para tenaga pendidik
dan kependidikan telah menggunakan TIK untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan
manajemen sekolah dan tugas-tugas berdasarkan kurikulum. Sekolah juga sudah
mencoba mengadaptasi kurikulum agar dapat lebih banyak menggunakan TIK dalam
berbagai mata pelajaran dengan piranti lunak yang tertentu.
c.
Tahap Infusing
menuntut adanya upaya untuk mengintegrasikan dan memasukkan TIK ke dalam
kurikulum. Pada pendekatan ini, sekolah telah menerapkan teknologi berbasis
komputer di laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Guru berada pada
tahap mengeksplorasi cara atau metode baru di mana TIK mengubah produktivitas
dan pekerjaan profesional mereka untuk meningkatkan belajar siswa dan
pengelolaan pembelajaran. Kurikulum mulai menggabungkan subjek pembelajaran
yang mencerminkan aplikasi dunia nyata.
d.
Tahap
Transforming dicirikan dengan adanya upaya sekolah untuk merencanakan dan
memperbaharui organisasinya dengan cara yang lebih kreatif. TIK menjadi bagian
integral dengan kegiatan pribadi dan kegiatan profesional sehari-hari di
sekolah. TIK sebagai alat yang digunakan secara rutin untuk membantu belajar
sedemikian rupa sehingga sepenuhnya terintegrasi di semua pembelajaran di kelas.
Fokus kurikulum mengacu pada learner-centered (berpusat pada peserta didik) dan
mengintegrasikan mata pelajaran dengan dunia nyata. TIK diajarkan sebagai mata
pelajaran tersendiri dengan level profesional dan disesuaikan dengan
bidang-bidang pekerjaan sekaligus sebagai ilmu untuk mendukung model
pembelajaran berbasis TIK dan menciptakan karya TIK. Sekolah sudah menjadi
pusat pembelajaran untuk para komunitasnya. Untuk menyimpulkan, ketika tahap
transformasi tercapai, seluruh etos lembaga tersebut berubah: guru dan staf
pendukung lainnya menganggap TIK sebagai bagian alami dari kehidupan
sehari-hari lembaga mereka, yang telah menjadi pusat pembelajaran bagi
masyarakat.