Senin, 30 April 2018

Curriculum Vitae
Nama Lengkap         : Nanda Firdayanti

Jenis Kelamin          : Perempuan

Alamat                        : Jalan Raya Sesetan Gang
Gumuk Sari No 15

No Kontak                 : 089677713475







  1.  Riwayat Pendidikan
No
Tingkat Pendidikan
Nama Lembaga
Tahun Pendidikan
Dari
Sampai
1
Sekolah Dasar
SD N 6 Sesetan
2005
2011
2
Sekolah Menengah Pertama
SMP N 6 Denpasar
2011
2014
3
Sekolah Menengah Atas
SMA N 5 Denpasar
2014
2017
4
Perguruan Tinggi
UNDIKSHA
2017
Sekarang

  1. Daftar Karya Ilmiah
No
Tahun
Judul
Keterangan/Peran
1
2017
Pemanfaatan Buku Pop Up dalam Meningkatkan Literasi Anak Usia Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Desa Busung Biu
Penulis
2
2017
Penerapan Pembelajaran Berbasis Komputer Sebagai Dasar Pengenalan Teknologi Informasi Pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD Negeri 2 Desa Busung Biu
Penulis
3
2017
Pengadaan Sosialisasi tentang Bahaya HIV AIDS di Desa Sanur Banjar Tanjung
Penulis
4
2018
Klasifikasi Makhluk Hidup
Penulis
5
2017
Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Penulis
6
2018
Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Penulis
7
2017
Erupsi Gunung Agung
Penulis
8
2018
Manajemen Kelas
Penulis

Denpasar,30 April 2018


Nanda Firdayanti
1711031067

Kamis, 19 April 2018


Standar ICT Berdasarkan UNESCO

Standar dan sumber daya dalam UNESCO proyek “ ICT Standar Kompetensi Guru” (ICY-CTS ) memberikan pedoman bagi semua guru, khusus untuk program pendidikan guru, perencanaan dan penawaran  akan mempersiapkan mereka untuk memainkan peran penting dalam memproduksi teknologi yang mampu bagi siswa. Hari ini guru kelas perlu dipersiapkan untuk menyediakan teknologi yang didukung kesempatan pembelajaran bagi siswa mereka. Menjadi siap untuk menggunakan teknologi dan mengetahui bagaimana teknologi yang dapat mendukung pembelajaran siswa telah menjadi keterampilan integral dan profesional setiap guru.
            Melalui proyek ICT-CTS, UNESCO menanggapi :
a.              Fungsinya sebagai lembaga penetapan standar
b.              Mandatnya dalam Pendidikan untuk Semua ( PUS )
c.              Mandatnya sebagai lembaga yang memimpin garis aksi C4 pada “pembangunan kapasitas” ( dengan UNDP ) dan C7 pada “ e-learning” yang ditetapkan oleh Jenewa. Rencana Aksi yang diadopsi oleh WSIS1 (2003)
d.             Untuk tujuan menyeluruh atas bangunan inklusif masyarakat pengetahuan melalui komunikasi dan informasi.

Kompetensi TIK Guru
UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) telah membuat Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk Guru dalam dokumen ICT Competency Framework for Teachers (ICT CFT). ICT CFT adalah suatu kerangka kerja yang mencantumkan kompetensi yang diperlukan oleh guru untuk mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan belajar mengajar dan praktek profesional guru. ICT Competency Framework for Teachers ini bertujuan untuk membantu negara-negara dalam mengembangkan kebijakan dan standar kompetensi TIK guru nasional yang komprehensif, dan harus dilihat sebagai komponen penting dari TIK secara keseluruhan dalam Master Plan Pendidikan.
Menurut UNESCO, Kompetensi TIK guru dapat dikelompokkan ke dalam enam aspek, yaitu: 1. Pemahaman TIK dalam pendidikan, 2. Kurikulum dan Penilaian, 3. Pedagogi, 4. Teknologi Informasi dan Komunikasi, 5. Organisasi dan Administrasi, dan 6. Pembelajaran Guru Profesional.
1.      Aspek Pemahaman TIK dalam pendidikan meliputi pemahaman guru terhadap kebijkan pemerintah dalam pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan, sehingga guru mampu menerjemahkan kebikan tersebut ke dalam praktek aktivitas pembelajaran.
2.      Aspek Kurikulum dan Penilaian meliputi kompetensi guru dalam pemanfaatan TIK dalam hal pengembangan kurikulum, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan pengalaman belajar siswa, penilaian dan pengukuran, serta pemanfaatan TIK untuk peserta didik berkebutuhan khusus.
3.      Aspek Pedagogi meliputi pemanfaatan TIK dalam hal perencanaan dan penyusunan strategi pembelajaran, pengembangan pembelajaran aneka sumber, pembelajaran berbasis masalah, serta komunikasi dan kolaborasi.
4.      Aspek Teknologi Informasi dan Komunikasi meliputi kompetensi guru dalam penggunaan piranti TIK, baik pemanfaatan multimedia, internet, media audio visual untuk pembelajaran ataupun TIK sebagai penunjang administrasi pembelajaran.
5.      Aspek Organisasi dan Administrasi meliputi integrasi TIK dalam pembelajaran, pengelolaan pembelajaran berbantuan TIK, serta pemahaman tentang etika dalam pemanfaatan TIK.
6.      Aspek Pembelajaran Guru Profesional meliputi kemampuan guru dalam memanfaatkan TIK untuk pengembangan diri, partisipasi dan kontribusi dalam forum profesi, serta memanfaatkan TIK sebagai sarana riset dan pengembangan professional.

Tahapan Integrasi ICT (TIK)
Model integrasi TIK seperti pada gambar memiliki dua dimensi: teknologi dan pedagogi. Teknologi merujuk untuk semua teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan pedagogi adalah seni dan ilmu mengajar. Dimensi teknologi adalah sebuah kontinum yang mewakili jumlah dari penggunaan TIK yang semakin meningkat/beragam. Dimensi pedagogi juga sebuah kontinum dan mewakili perubahan praktek mengajar yang dihasilkan dari penerapan TIK. Dalam dua dimensi ini terdap;at empat tahapan model integrasi TIK pada sistem pendidikan dan sekolah. Keempat tahapan ini merupakan tahapan kontinum, yang oleh UNESCO diistilahkan dengan Emerging, Applying, Infusing dan Transforming.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiw9albfYxLyd713nlZ2aZJfhI5Q-PhjLd_4-1C8mxd1UBCjvB0OffdP-nrDoff8qM_SBFm50y9J6h3BMk1Jj4-qPKII72_nvC4hHhqaW0CmHePJk2wJ7OoaxEabcWaPB1VrXDhCsLXavI/s320/tahapan_integrasi_tik_pendidikan_unesco.jpg
a.       Tahap Emerging dicirikan dengan pemanfaatan TIK oleh sekolah pada tahap permulaan. Pada tahapan ini, sekolah baru memulai membeli atau membiayai infrastruktur TIK, baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak. Kemampuan TIK guru-guru dan staf administrasi sekolah masih berada pada tahap memulai eksplorasi penggunaan TIK untuk tujuan manajemen dan menambahkan TIK pada kurikulum. Pada tahap ini sekolah masih menerapkan sistem pembelajaran konvensional, akan tetapi sudah ada kepedulian tentang bagaimana pentingnya penggunaan TIK tersebut dalam konteks pendidikan. Pada tahap ini, fokus di kelas sering belajar keterampilan TIK dasar dan mengidentifikasi komponen TIK. Guru pada tahap ini sering menggunakan peralatan yang tersedia untuk tujuan profesional mereka sendiri, seperti pengolah kata untuk mempersiapkan lembar kerja, spreadsheet untuk mengelola daftar kelas dan, jika internet juga tersedia, untuk mencari informasi atau berkomunikasi melalui e-mail. Dengan cara ini, guru mengembangkan keterampilan literasi TIK mereka dan belajar bagaimana menerapkan TIK untuk berbagai tugas profesional dan pribadi. Penekanannya adalah pada belajar menggunakan berbagai tools dan aplikasi, dan menjadi sadar akan potensi TIK dalam pengajaran kedepannya . Pada tahap Emerging, praktek kelas masih sangat banyak berpusat pada guru.
b.      Tahap Applying dicirikan dengan sudah adanya pemahaman tentang kontribusi dan upaya menerapkan TIK dalam konteks manajemen sekolah dan pembelajaran. Dan biasanya di negara-negara tersebut sudah ada kebijakan nasional TIK. Para tenaga pendidik dan kependidikan telah menggunakan TIK untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan manajemen sekolah dan tugas-tugas berdasarkan kurikulum. Sekolah juga sudah mencoba mengadaptasi kurikulum agar dapat lebih banyak menggunakan TIK dalam berbagai mata pelajaran dengan piranti lunak yang tertentu.
c.       Tahap Infusing menuntut adanya upaya untuk mengintegrasikan dan memasukkan TIK ke dalam kurikulum. Pada pendekatan ini, sekolah telah menerapkan teknologi berbasis komputer di laboratorium, kelas, dan bagian administrasi. Guru berada pada tahap mengeksplorasi cara atau metode baru di mana TIK mengubah produktivitas dan pekerjaan profesional mereka untuk meningkatkan belajar siswa dan pengelolaan pembelajaran. Kurikulum mulai menggabungkan subjek pembelajaran yang mencerminkan aplikasi dunia nyata.
d.      Tahap Transforming dicirikan dengan adanya upaya sekolah untuk merencanakan dan memperbaharui organisasinya dengan cara yang lebih kreatif. TIK menjadi bagian integral dengan kegiatan pribadi dan kegiatan profesional sehari-hari di sekolah. TIK sebagai alat yang digunakan secara rutin untuk membantu belajar sedemikian rupa sehingga sepenuhnya terintegrasi di semua pembelajaran di kelas. Fokus kurikulum mengacu pada learner-centered (berpusat pada peserta didik) dan mengintegrasikan mata pelajaran dengan dunia nyata. TIK diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri dengan level profesional dan disesuaikan dengan bidang-bidang pekerjaan sekaligus sebagai ilmu untuk mendukung model pembelajaran berbasis TIK dan menciptakan karya TIK. Sekolah sudah menjadi pusat pembelajaran untuk para komunitasnya. Untuk menyimpulkan, ketika tahap transformasi tercapai, seluruh etos lembaga tersebut berubah: guru dan staf pendukung lainnya menganggap TIK sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari lembaga mereka, yang telah menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat.